Maen Pukulan

Faktor yang mempengaruhi perkembangan kebudayaan Betawi, serta karakter, pendidikan dan profesi Orang Betawi, diantaranya:
# Faktor Garis Keturunan (Genealogi) Orang Betawi yang berasal dari perpaduan Orang Arab, Orang Cina dan Orang Melayu.
# Faktor Agama Islam sebagai anutan bagi mayoritas Orang Betawi.
# Faktor Kondisi Sosial di tanah Batavia yang tengah berada dalam masa penjajahan Belanda.

Terjadinya perluasan makna pada Maen Pukulan, dapat menjadi salah satu contoh adanya pengaruh tersebut.

Makna awal Maen Pukulan:
# Maen Pukulan adalah frasa dalam Dialek Betawi, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai permainan gerak badan dengan mengandalkan kekuatan dan kelincahan gerakan tangan serta didukung oleh kaki, lalu dirangkai secara berurutan dan sistematis.
# Maen Pukulan merupakan Maenan Orang Betawi dan diperkirakan telah menjadi tradisi di tanah Batavia sejak awal abad ke-16 Masehi, melalui pertunjukkan seni silat pada acara pesta perkawinan atau khitanan (sunatan).
# Di awal pemunculannya, Maen Pukulan diciptakan dan digunakan oleh Orang Betawi untuk tujuan bertahan dan menyerang saat melawan penjajah Belanda, serta berbuat amar ma’ruf nahi munkar (al`amru bil-ma’ruf wannahyu’anil-mun’kar) atau mengajak berbuat baik dan mencegah berbuat jahat.
# Di masa penyebaran ilmunya, Maen Pukulan bersifat khusus, sempit dan tertutup.
# Pola penyebaran Maen Pukulan hanya boleh -bersumber dari-, -diajarkan kepada- dan -dipelajari oleh- pribadi dan kelompok yang berasal dari kelas/latar belakang tertentu saja, terutama yang memiliki kelebihan dalam hal karakter (kekuasaan/pengaruh), pendidikan (akademis/islami) dan profesi (ekonomi/penghasilan), misalnya: anggota keluarga dari sang penciptanya atau Orang Betawi saja.
# Lokasi penyebaran Maen Pukulan hanya dilakukan per kampung tertentu saja, berdasarkan aktivitas penciptanya, misalnya: di tempat tinggal, di tempat menimba ilmu, di tempat bekerja saja.
# Pencipta Maen Pukulan disebut Guru Besar, Pengajarnya disebut Guru, Pelajarnya disebut Murid, dan Murid yang telah mahir memainkannya disebut Jawara.

Makna-makna tersebut, telah memunculkan keragaman bentuk, corak dan penamaan pada gerakan dan alirannya, yang kerap merujuk pada nama atau kampung penciptanya, misalnya: Maen Pukulan Beksi asli kampung Dadap Tangerang, Maen Pukulan Cingkrik asli kampung Rawa Belong, Maen Pukulan Kemanggisan asli kampung Kemanggisan, Maen Pukulan Macan Kemayoran asli kampung Kemayoran, Maen Pukulan Sabeni asli kampung Tanah Abang.

Makna kini Maen Pukulan:
# Maen Pukulan memiliki makna yang layak dan telah memenuhi syarat untuk dapat dikelompokkan sebagai salah satu unsur: Bela diri, Budaya, Ilmu, Olahraga dan Seni.
# Maen Pukulan memiliki makna yang identik dengan kata Pencak dan kata Silat dalam Bahasa Indonesia.
# Di masa perkembangannya, Maen Pukulan telah mengalami perluasan makna dan kerap disebut sebagai Silat Betawi.
# Maen Pukulan telah menjadi bagian dari Kebudayaan Indonesia, berupa Ilmu, Olahraga dan Seni Bela diri Pencak Silat.

Pada 18 Mei 1948 dibentuklah sebuah organisasi yang bernama Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI), sebagai sebuah wadah pemersatu bagi beragam aliran Silat di seluruh Indonesia.
Pada 20 Januari 1972 dibentuklah sebuah organisasi yang bernama Persatuan Pencak Silat (PPS) Putra Betawi, sebagai sebuah wadah pemersatu bagi beragam aliran Silat Betawi.
Pada Kongres IV IPSI tahun 1973, Persatuan Pencak Silat (PPS) Putra Betawi menjadi bagian dari 10 (sepuluh) Perguruan Silat yang ditetapkan oleh IPSI sebagai Top Organisasi/Perguruan Induk/Perguruan Anggota Khusus.

H. Eddie Marzuki Nalapraya, Orang Betawi kelahiran Tanjung Priok, Jakarta pada 6 Juni 1931 ini adalah cucu dari Kiai Bochri (Bogo), yang merupakan seorang Jawara Silat dari kampung Rempoa, Ciputat.
Kiprah mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 1984-1987 ini di dalam dunia persilatan di Indonesia dan dunia telah sangat dikenal, hingga dijuluki sebagai Bapak Pencak Silat Dunia.
Sejak awal tahun 1970-an telah memulai aktivitasnya di dalam organisasi IPSI, menjadi Ketua Umum Pengurus Besar (PB) IPSI periode 1978-1998, menjadi Pemrakarsa dan Presiden pertama Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (Persilat) pada 1980, menjadi Ketua Yayasan Padepokan Pencak Silat TMII, dianugerahi gelar Doctor of Philosophy in Martial Art oleh Asia Pasific Open University Malaysia, dianugerahi bintang Mahaputra Pratama RI pada 2010.
Ketika IPSI dipimpin oleh Bapak H. Eddie Marzuki Nalapraya, 10 (sepuluh) Perguruan Silat yang telah ditetapkan oleh IPSI periode sebelumnya sebagai Top Organisasi/Perguruan Induk/Perguruan Anggota Khusus tersebut, diubah namanya menjadi 10 (sepuluh) Perguruan Historis, yang akan selalu menjadi peserta dan memiliki hak suara di dalam setiap Munas PB IPSI hingga kini.

Referensi: Diolah dari berbagai sumber.
KlikAlam.Com 😉 kindness for all

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s